Burger King (NYSE: BKC), sering disingkat BK, adalah rantai global restoran hamburger cepat saji yang berkantor pusat di Miami-Dade County sama operasi, Florida, Amerika Serikat. Perusahaan mulai sebagai rantai, restoran Jacksonville berbasis di Florida pada tahun 1953. Awalnya disebut Insta-Burger King, itu dimiliki dan dioperasikan oleh Keith J. Kramer dan paman istrinya, Matthew Burns. Setelah perusahaan mengalami kesulitan keuangan pada tahun 1955, dua waralaba berbasis Miami, David Edgerton dan James McLamore, membeli perusahaan dan dinamai kembali itu Burger King. Sejak saat itu, perusahaan telah menggunakan beberapa variasi waralaba untuk memperluas operasinya.
Burger King Holdings adalah perusahaan induk dari Burger King, di Amerika Serikat, beroperasi di bawah judul Nama Burger King sedangkan internasional itu beroperasi di bawah bendera Burger King Corporation. Ini adalah sebuah perusahaan publik dengan perusahaan investasi TPG Capital, Bain Capital, dan Goldman Sachs Capital Partners, yang secara kolektif memiliki sekitar 31% dari perusahaan. Pada tanggal 2 September 2010, ia mengumumkan bahwa perusahaan telah menerima tawaran pembelian dari 3G Capital, sebuah perusahaan yang didukung oleh miliarder Brasil Jorge Paulo Lemann, Marcel Telles dan Carlos Alberto Sicupira, dalam sebuah kesepakatan senilai $ 3.26bn.
Pada akhir tahun fiskal 2009, Burger King melaporkan bahwa ada lebih dari 12.000 outlet di 73 negara, 66% berada di Amerika Serikat dan 90% adalah milik swasta dan dioperasikan. Perusahaan ini memiliki lebih dari 37.000 karyawan yang melayani sekitar 11,4 juta pelanggan setiap hari. Di Amerika Utara,. waralaba dilisensikan pada basis per toko, sedangkan di beberapa lokasi internasional lisensi dijual secara regional dengan waralaba yang memiliki hak eksklusif untuk pengembangan daerah atau negara. Ini waralaba daerah ini dikenal sebagai waralaba master, dan bertanggung jawab untuk membuka restoran baru, lisensi operator partai baru ketiga, dan melakukan pengawasan standar semua lokasi restoran di negara-negara, contoh terbesar dari sebuah waralaba master adalah Hungry Jack, yang secara eksklusif memiliki, mengoperasikan atau sub-lisensi lebih dari 300 restoran di Australia.
The Burger King menu telah berkembang dari penawaran dasar burger, kentang goreng, soda dan milkshake pada tahun 1954, untuk satu set, lebih besar lebih beragam penawaran yang mencakup beberapa variasi ayam, ikan, salad dan sarapan. The Whopper, sandwich yang kemudian menjadi produk tanda tangan Burger King, adalah penambahan besar pertama ke menu oleh McLamore pada tahun 1957. Tidak semua perkenalan memiliki keberhasilan Whopper; BK telah memperkenalkan banyak produk yang gagal menangkap di pasar.
Beberapa produk yang telah gagal di AS telah melihat sukses di pasar luar negeri, di mana BK juga telah dirancang menu untuk selera daerah.
Perusahaan "Golden Age" dari iklan adalah selama tahun 1970-an ketika memperkenalkan maskot Sihir Burger King, jingle berkesan, dan slogan terkenal dan beberapa diparodikan. Dimulai pada awal 1980-an, iklan yang mulai kehilangan fokus; serangkaian kurang kampanye iklan yang berhasil dibuat oleh berbagai lembaga berlanjut selama dua dekade berikutnya. Pada tahun 2003, Burger King mulai resuscitating iklan sekarat dengan mempekerjakan biro iklan Miami berbasis Crispin Porter + Bogusky (CP + B). Mereka benar-benar reorganisasi iklan Burger King dengan serangkaian iklan baru berpusat pada karakter Burger King menghidupkan kembali Sihir. (wikipedia)
Lihat juga : Sate, Sushi
Minggu, 31 Oktober 2010
sate kelinci dari magetan
Berkunjung ke kawasan wisata Telaga Sarangan yang terletak di lereng Gunung Lawu, Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, tidak lengkap jika tidak mencicipi kuliner khasnya, yakni Sate kelinci.
Tidak sulit mencari dimana pengunjung dapat menemukan hidangan khas ini. Karena hampir di sekeliling Telaga Sarangan terdapat warung-warung tenda maupun pedagang kaki lima yang menjajakan sate kelinci.
Data dari Dinas Pariwisata Magetan mencatat, terdapat sedikitnya 140 pedagang sate kelinci yang berjualan di sekitar kawasan Telaga Sarangan. Mereka tergabung dalam paguyuban pedagang sate kelinci Telaga Sarangan.
Hampir sama dengan hidangan sate pada umumnya, hanya saja pada sate kelinci memiliki tekstur daging yang berserat halus dan warna sedikit pucat. Sehingga rasanya lebih lembut dan gurih saat dikunyah. Tidak seperti halnya sate daging ayam ataupun kambing.
Salah satu anggota paguyuban pedagang sate kelinci Telaga Sarangan, Sukatno, mengatakan, untuk dikonsumsi menjadi hidangan sate kelinci yang mantap, biasanya daging kelinci diambil dari kelinci yang berumur antara empat hingga enam bulan.
"Dipilihnya umur tersebut, karena rasa daging yang dihasilkannya akan empuk dan gurih," ujar Sukatno sambil mengipasi sate kelincinya.
Dalam penyajiannya, sate kelinci tak ubahnya sate lainnya. Bumbunya pun sama yaitu terdiri atas bumbu kacang dihaluskan bercampur irisan bawang merah dan kecap manis. Bagi yang suka pedas bisa ditambahkan sambal pada bumbu satenya. Demikian juga untuk sensasi rasa segar, pada bumbu sate bisa ditambahkan dengan air perasan irisan jeruk nipis.
Ada dua pilihan dalam menyajikan satu porsi sate kelinci, yakni menikmati sate dengan irisan lontong yang lembut atau nasi putih yang pulen. Hidangan ini akan terasa lebih nikmat lagi saat menyantapnya sambil menikmati pemandangan Telaga Sarangan nan elok.
Satu porsi sate kelinci Telaga Sarangan ini terdiri dari 15 tusuk sate dan satu piring lontong ataupun nasi putih. Satu porsinya dihargai Rp10.000,00. Atau untuk 10 tusuknya hanya merogoh kocek Rp7.000,00 saja.
Sukatno menambahkan, satu kelinci muda, rata-rata dapat menghasilkan 60 hingga 90 tusuk sate, tergantung dari ukuran kelinci. Rata-rata untuk hari libur seperti hari Minggu, pedagang sate kelinci bisa menjual hingga 250 tusuk, sedangkan pada liburan keagamaan ataupun akhir tahun bisa meningkat hingga 900 tusuk sate.
Sukatno mengaku, kelinci-kelinci tersebut ia peroleh dari pedagang pengepul yang sudah mejadi langganannya. Ia menggeluti pekerjaan berjualan sate kelinci ini sudah sejak tahun 1983.
"Setiap berkunjung ke Telaga Sarangan, saya selalu membeli makanan kesukaan saya yakni sate kelinci. Menurut saya, daging sate kelinci di Telaga Sarangan lebih empuk dan gurih. Selain itu harganya juga pas," kata salah satu pengunjung Telaga Sarangan dari Madiun, Ashari Purwo.
Menurutnya, sate kelinci Telaga Sarangan akan lebih "mak nyus" jika disandingkan dengan minuman teh tubruk hangat. Pasangan ini sangat pas untuk menikmati sejuknya udara di lereng Gunung Lawu ini.(antara - jawa timur)
Lihat juga : Hanamasa, Burger King
Tidak sulit mencari dimana pengunjung dapat menemukan hidangan khas ini. Karena hampir di sekeliling Telaga Sarangan terdapat warung-warung tenda maupun pedagang kaki lima yang menjajakan sate kelinci.
Data dari Dinas Pariwisata Magetan mencatat, terdapat sedikitnya 140 pedagang sate kelinci yang berjualan di sekitar kawasan Telaga Sarangan. Mereka tergabung dalam paguyuban pedagang sate kelinci Telaga Sarangan.
Hampir sama dengan hidangan sate pada umumnya, hanya saja pada sate kelinci memiliki tekstur daging yang berserat halus dan warna sedikit pucat. Sehingga rasanya lebih lembut dan gurih saat dikunyah. Tidak seperti halnya sate daging ayam ataupun kambing.
Salah satu anggota paguyuban pedagang sate kelinci Telaga Sarangan, Sukatno, mengatakan, untuk dikonsumsi menjadi hidangan sate kelinci yang mantap, biasanya daging kelinci diambil dari kelinci yang berumur antara empat hingga enam bulan.
"Dipilihnya umur tersebut, karena rasa daging yang dihasilkannya akan empuk dan gurih," ujar Sukatno sambil mengipasi sate kelincinya.
Dalam penyajiannya, sate kelinci tak ubahnya sate lainnya. Bumbunya pun sama yaitu terdiri atas bumbu kacang dihaluskan bercampur irisan bawang merah dan kecap manis. Bagi yang suka pedas bisa ditambahkan sambal pada bumbu satenya. Demikian juga untuk sensasi rasa segar, pada bumbu sate bisa ditambahkan dengan air perasan irisan jeruk nipis.
Ada dua pilihan dalam menyajikan satu porsi sate kelinci, yakni menikmati sate dengan irisan lontong yang lembut atau nasi putih yang pulen. Hidangan ini akan terasa lebih nikmat lagi saat menyantapnya sambil menikmati pemandangan Telaga Sarangan nan elok.
Satu porsi sate kelinci Telaga Sarangan ini terdiri dari 15 tusuk sate dan satu piring lontong ataupun nasi putih. Satu porsinya dihargai Rp10.000,00. Atau untuk 10 tusuknya hanya merogoh kocek Rp7.000,00 saja.
Sukatno menambahkan, satu kelinci muda, rata-rata dapat menghasilkan 60 hingga 90 tusuk sate, tergantung dari ukuran kelinci. Rata-rata untuk hari libur seperti hari Minggu, pedagang sate kelinci bisa menjual hingga 250 tusuk, sedangkan pada liburan keagamaan ataupun akhir tahun bisa meningkat hingga 900 tusuk sate.
Sukatno mengaku, kelinci-kelinci tersebut ia peroleh dari pedagang pengepul yang sudah mejadi langganannya. Ia menggeluti pekerjaan berjualan sate kelinci ini sudah sejak tahun 1983.
"Setiap berkunjung ke Telaga Sarangan, saya selalu membeli makanan kesukaan saya yakni sate kelinci. Menurut saya, daging sate kelinci di Telaga Sarangan lebih empuk dan gurih. Selain itu harganya juga pas," kata salah satu pengunjung Telaga Sarangan dari Madiun, Ashari Purwo.
Menurutnya, sate kelinci Telaga Sarangan akan lebih "mak nyus" jika disandingkan dengan minuman teh tubruk hangat. Pasangan ini sangat pas untuk menikmati sejuknya udara di lereng Gunung Lawu ini.(antara - jawa timur)
Lihat juga : Hanamasa, Burger King
Sejarah Dim Sum? Ternyata begitu....
Dim Sum biasanya dikaitkan dengan tradisi yang lebih tua dari yum cha (minum teh), yang berakar pada wisatawan di Jalan Sutra kuno membutuhkan tempat untuk beristirahat. Jadi kedai-kedai teh berdiri di sepanjang pinggir jalan. petani Pedesaan, kelelahan setelah bekerja keras di ladang, juga akan pergi ke rumah minum teh untuk bersantai sore teh. Pada awalnya, itu dianggap pantas untuk menggabungkan teh dengan makanan, karena orang percaya hal itu akan menyebabkan kenaikan berat badan yang berlebihan. Orang-orang kemudian menemukan bahwa teh dapat membantu dalam pencernaan, sehingga pemilik kedai teh mulai menambahkan berbagai makanan ringan.
Seni kuliner unik Dim Sum berasal dengan Kanton di Cina bagian selatan, yang selama berabad-abad berubah Yum Cha dari tangguh santai untuk pengalaman bersantap yang keras dan bahagia. Di Hong Kong, dan di sebagian besar kota-kota di provinsi Guangdong, Cina banyak restoran dim sum mulai melayani sejak lima pagi. Ini adalah tradisi bagi orang tua untuk berkumpul untuk makan dim sum setelah latihan pagi, sering menikmati koran pagi. Bagi banyak di Cina selatan, yum cha diperlakukan sebagai hari keluarga akhir pekan. Konsisten dengan tradisi ini, restoran dim sum biasanya hanya melayani dim sum hingga menjelang petang (kanan sekitar waktu istirahat 3 jam kopi tradisional Barat), dan melayani jenis lain masakan Kanton di malam hari. Saat ini, berbagai item dim sum bahkan dijual sebagai take-out untuk siswa dan pekerja kantor di perjalanan.
Sedangkan dim sum (menyentuh hati) pada awalnya bukan makanan utama, hanya snack, dan karena itu hanya dimaksudkan untuk menyentuh hati, sekarang bahan pokok budaya makan Cina, terutama di Hong Kong. Pejabat kesehatan baru-baru ini mengkritik jumlah tinggi lemak jenuh dan natrium dalam beberapa hidangan dim sum, memperingatkan bahwa dim sum dikukus, tidak boleh secara otomatis dianggap menjadi sehat. Para pejabat kesehatan merekomendasikan menyeimbangkan masakan lemak dengan sayuran rebus.
Lihat juga : sate
Seni kuliner unik Dim Sum berasal dengan Kanton di Cina bagian selatan, yang selama berabad-abad berubah Yum Cha dari tangguh santai untuk pengalaman bersantap yang keras dan bahagia. Di Hong Kong, dan di sebagian besar kota-kota di provinsi Guangdong, Cina banyak restoran dim sum mulai melayani sejak lima pagi. Ini adalah tradisi bagi orang tua untuk berkumpul untuk makan dim sum setelah latihan pagi, sering menikmati koran pagi. Bagi banyak di Cina selatan, yum cha diperlakukan sebagai hari keluarga akhir pekan. Konsisten dengan tradisi ini, restoran dim sum biasanya hanya melayani dim sum hingga menjelang petang (kanan sekitar waktu istirahat 3 jam kopi tradisional Barat), dan melayani jenis lain masakan Kanton di malam hari. Saat ini, berbagai item dim sum bahkan dijual sebagai take-out untuk siswa dan pekerja kantor di perjalanan.
Sedangkan dim sum (menyentuh hati) pada awalnya bukan makanan utama, hanya snack, dan karena itu hanya dimaksudkan untuk menyentuh hati, sekarang bahan pokok budaya makan Cina, terutama di Hong Kong. Pejabat kesehatan baru-baru ini mengkritik jumlah tinggi lemak jenuh dan natrium dalam beberapa hidangan dim sum, memperingatkan bahwa dim sum dikukus, tidak boleh secara otomatis dianggap menjadi sehat. Para pejabat kesehatan merekomendasikan menyeimbangkan masakan lemak dengan sayuran rebus.
Lihat juga : sate
Jumat, 29 Oktober 2010
Sushi Boon
Restoran sushi yang biasanya identik dengan tempat yang mewah, dengan harga yang selangit dipatahkan oleh Sushi Boon yang ada di pinggir Jalan Dago tepatnya di depan Level Factory Outlet. Sushi lovers juga bisa menikmati aneka fusion sushi dengan harga yang merakyat.
Eating sushi with different experience itulah slogan Sushi Boon. Saat makan di Sushi Boon, akan terasa berbeda dengan menyantap sushi di restoran khusus sushi lainnya.
Konsep warung sushi ini minimalis dan terbuka. Di sana pengunjung bisa duduk di bangku plastik sederhana, atau di meja mirip bar yang langsung berhadapan dengan koki Sushi Boon.
Beragam gambar pada menu fusion sushi atau suhsi yang telah dimodifikasi membuat tak sabar ingin segera mencicipi makanan khas Jepang ini. Beberapa menu di Sushi Boon di antaranya rolling stones, spiky the spicy, battousai roll, crabby baby, leviathan, sweetheart, sunshine, dan maguro island. Selain itu, ada juga original sushi seperti nigiri, gunkan, maki, dan donburi.
Menurut salah satu pemilik Sushi Boon, Rifki Amir Balfas (22), dari beberapa menu di atas, jenis sushi yang menjadi andalan adalah Rolling Stones. Sengaja diberi nama Rolling Stones agar lebih dingat dan sesuai dengan pasar Sushi Boon yang targetnya adalah anak muda.
"Pemilihan namanya memang anak muda banget. Biar gampang di ingat juga," katanya sambil tertawa.
Rolling stones adalah sushi yang didalamnya terdiri dari beef teriyaki dan melting mozzarella cheese. Menu ini cocok untuk yang tidak menyukai jenis suhsi seafood.
Soal harga, jangan khawatir, harga sushi di Sushi Boon ringan di kantong. Harganya berkisar dari Rp 10 ribu hingga Rp 30 ribu. Menurut Rifki, harganya memang disesuaikan dengan pasarnya yakni kalangan mahasiswa, remaja, dewasa muda. "Kita pengen konsumen senang," tandasnya.
Porsinya pun berbeda dengan kebanyakan porsi sushi lainnya yang hanya menyuguhkan 4 potong sushi. Di Sushi Boon ini, fusion sushi dibagi menjadi 8 potong. "Dulu sih kenapa 8 potong karena kita kan bisnis ber-delapan, jadi biar pas saja mencoba satu-satu," ucapnya.
Konsep outdoor Sushi Boon membuat suasana fun dan rileks lebih terasa saat menyantap aneka sushi. Jika tak ingin makan di tempat, Sushi Boon juga bisa dibungkus untuk dibawa pulang. "Orang-orang kan biasanya agak segan masuk ke restoran sushi yang mewah. Kita ingin bikin santai saja dengan konsep seperti ini," tutupnya. (avi/tya-detikbandung)
Lihat juga : hanamasa
burger king
Eating sushi with different experience itulah slogan Sushi Boon. Saat makan di Sushi Boon, akan terasa berbeda dengan menyantap sushi di restoran khusus sushi lainnya.
Konsep warung sushi ini minimalis dan terbuka. Di sana pengunjung bisa duduk di bangku plastik sederhana, atau di meja mirip bar yang langsung berhadapan dengan koki Sushi Boon.
Beragam gambar pada menu fusion sushi atau suhsi yang telah dimodifikasi membuat tak sabar ingin segera mencicipi makanan khas Jepang ini. Beberapa menu di Sushi Boon di antaranya rolling stones, spiky the spicy, battousai roll, crabby baby, leviathan, sweetheart, sunshine, dan maguro island. Selain itu, ada juga original sushi seperti nigiri, gunkan, maki, dan donburi.
Menurut salah satu pemilik Sushi Boon, Rifki Amir Balfas (22), dari beberapa menu di atas, jenis sushi yang menjadi andalan adalah Rolling Stones. Sengaja diberi nama Rolling Stones agar lebih dingat dan sesuai dengan pasar Sushi Boon yang targetnya adalah anak muda.
"Pemilihan namanya memang anak muda banget. Biar gampang di ingat juga," katanya sambil tertawa.
Rolling stones adalah sushi yang didalamnya terdiri dari beef teriyaki dan melting mozzarella cheese. Menu ini cocok untuk yang tidak menyukai jenis suhsi seafood.
Soal harga, jangan khawatir, harga sushi di Sushi Boon ringan di kantong. Harganya berkisar dari Rp 10 ribu hingga Rp 30 ribu. Menurut Rifki, harganya memang disesuaikan dengan pasarnya yakni kalangan mahasiswa, remaja, dewasa muda. "Kita pengen konsumen senang," tandasnya.
Porsinya pun berbeda dengan kebanyakan porsi sushi lainnya yang hanya menyuguhkan 4 potong sushi. Di Sushi Boon ini, fusion sushi dibagi menjadi 8 potong. "Dulu sih kenapa 8 potong karena kita kan bisnis ber-delapan, jadi biar pas saja mencoba satu-satu," ucapnya.
Konsep outdoor Sushi Boon membuat suasana fun dan rileks lebih terasa saat menyantap aneka sushi. Jika tak ingin makan di tempat, Sushi Boon juga bisa dibungkus untuk dibawa pulang. "Orang-orang kan biasanya agak segan masuk ke restoran sushi yang mewah. Kita ingin bikin santai saja dengan konsep seperti ini," tutupnya. (avi/tya-detikbandung)
Lihat juga : hanamasa
burger king
Kamis, 28 Oktober 2010
Sate Ponorogo, Sate Padang, and Sate Madura
Sate Madura
Originating on the island of Madura, near Java, is a famous variant among Indonesians. Most often made from mutton or chicken, the recipe's main characteristic is the black sauce made from Indonesian sweet soy sauce/kecap manis mixed with palm sugar (called gula jawa or "javanese sugar" in Indonesia), garlic, deep fried shallots, peanut paste, petis (a kind of shrimp paste), candlenut/kemiri, and salt. Sate Madura uses thinner chunks of meat than other variants. It is eaten with rice or rice cakes wrapped in banana/coconut leaves (lontong/ketupat). Raw thinly sliced shallot and plain sambal are often served as condiments
Sate Padang
A dish from Padang and the surrounding area in West Sumatra, which is made from cow or goat offal boiled in spicy broth then grilled. Its main characteristic is a yellow sauce made from rice flour mixed with spicy offal broth, turmeric, ginger, garlic, coriander, galangal root, cumin, curry powder and salt. It is further separated into two sub-variants, the Pariaman and the Padang Panjang, which differ in taste and the composition of their yellow sauces.
Sate Ponorogo
A variant of satay originating in Ponorogo, a town in East Java. It is made from sliced marinated chicken meat, and served with a sauce made of peanuts and chilli sauce and Garnished with shredded shallots, sambal (chili paste) and lime juice. This variant is unique for the fact that each skewer contains one large piece of chicken, rather than several small slices. The meat is marinated in spices and sweet soy sauce, in a process called "bacem" and is served with rice or lontong (rice cake).. The grill is made from terracotta earthenware with a hole in one side to allow ventilation for the coals. After three months of use, the earthenware grill disintegrates, and must be replaced. (wikipedia)
See also : dim sum
wine
Originating on the island of Madura, near Java, is a famous variant among Indonesians. Most often made from mutton or chicken, the recipe's main characteristic is the black sauce made from Indonesian sweet soy sauce/kecap manis mixed with palm sugar (called gula jawa or "javanese sugar" in Indonesia), garlic, deep fried shallots, peanut paste, petis (a kind of shrimp paste), candlenut/kemiri, and salt. Sate Madura uses thinner chunks of meat than other variants. It is eaten with rice or rice cakes wrapped in banana/coconut leaves (lontong/ketupat). Raw thinly sliced shallot and plain sambal are often served as condiments
Sate Padang
A dish from Padang and the surrounding area in West Sumatra, which is made from cow or goat offal boiled in spicy broth then grilled. Its main characteristic is a yellow sauce made from rice flour mixed with spicy offal broth, turmeric, ginger, garlic, coriander, galangal root, cumin, curry powder and salt. It is further separated into two sub-variants, the Pariaman and the Padang Panjang, which differ in taste and the composition of their yellow sauces.
Sate Ponorogo
A variant of satay originating in Ponorogo, a town in East Java. It is made from sliced marinated chicken meat, and served with a sauce made of peanuts and chilli sauce and Garnished with shredded shallots, sambal (chili paste) and lime juice. This variant is unique for the fact that each skewer contains one large piece of chicken, rather than several small slices. The meat is marinated in spices and sweet soy sauce, in a process called "bacem" and is served with rice or lontong (rice cake).. The grill is made from terracotta earthenware with a hole in one side to allow ventilation for the coals. After three months of use, the earthenware grill disintegrates, and must be replaced. (wikipedia)
See also : dim sum
wine
What is Butterfat?
Milkfat, or fat in general, including that from non0dairy sources, is important to ice cream for the following reasons:
* increases the richness of flavour in ice cream
* produces a characteristic smooth texture by lubricating the palate
* helps to give body to the ice cream, due to its role in fat destabilization
* aids in good melting properties, also due to its role in fat destabilization
* aids in lubricating the freezer barrel during manufacturing (Non-fat mixes are extremely hard on the freezing equipment)
The limitations of excessive use of butterfat in a mix include:
* cost
* hindered whipping ability
* decreased consumption due to excessive richness
* high caloric value
The best source of butterfat in ice cream for high quality flavour and convenience is fresh sweet cream from fresh sweet milk. Other sources include butter or anhydrous milkfat.
During freezing of ice cream, the fat emulsion which exists in the mix will partially destabilize or churn as a result of the air incorporation, ice crystallization and high shear forces of the blades. This partial churning is necessary to set up the structure and texture in ice cream, which is very similar to the structure in whipped cream. Emulsifiers help to promote this destabilization process, which will be discussed below.
The triglycerides in milkfat have a wide melting range, +40° C to -40° C, and thus there is always a combination of liquid and crystalline fat. Alteration of this solid: liquid ratio can affect the amount of fat destabilization that occurs. Duplicating this structure with other sources of fat is difficult.
Vegetable (non-dairy) fats are used extensively as fat sources in ice cream in the United Kingdom, parts of Europe, the Far East, and Latin America but only to a very limited extent in North America. Five factors of great interest in selection of fat source are the crystal structure of the fat, the rate at which the fat crystallizes during dynamic temperature conditions, the temperature-dependent melting profile of the fat, especially at chilled and freezer temperatures, the content of high melting triglycerides (which can produce a waxy, greasy mouthfeel) and the flavor and purity of the oil. It is important that the fat droplet contain an intermediate ratio of liquid:solid fat at the time of freezing. It is difficult to quantify this ratio as it is dependent on a number of composition and manufacturing factors, however, 1/2 to 2/3 crystalline fat at 4-5oC is a good, working rule. Crystallization of fat occurs in three steps: undercooling to induce nucleation, heterogeneous or homogeneous nucleation (or both), and crystal propagation. In bulk fat, nucleation is predominantly heterogeneous, with crystals themselves acting as nucleating agents for further crystallization, and undercooling is usually minimal. However, in an emulsion, each droplet must crystallize independently of the next. For heterogeneous nucleation to predominate, there must be a nucleating agent available in every droplet, which is often not the case. Thus in emulsions, homogeneous nucleation and extensive undercooling may be common. Blends of oils are often used in ice cream manufacture, selected to take into account physical characteristics, flavor, availability, stability during storage and cost.
We have recently completed a study on the use of non-dairy fats in frozen desserts, which is available here. A blend of 75% of either fractionated palm kernel oil or coconut oil and 25% of an unsaturated oil, like high oleic sunflower oil, was shown to produce optimal levels of fat destabilization, meltdown and flavour, although coconut oil may take longer to crystallize during aging. Blends of 50% milkfat, 37.5% fractionated palm kernel or coconut oil, and 12.5% high oleic sunflower oil were also shown to be very acceptable. (foodscience)
See also : soto
sour sally
* increases the richness of flavour in ice cream
* produces a characteristic smooth texture by lubricating the palate
* helps to give body to the ice cream, due to its role in fat destabilization
* aids in good melting properties, also due to its role in fat destabilization
* aids in lubricating the freezer barrel during manufacturing (Non-fat mixes are extremely hard on the freezing equipment)
The limitations of excessive use of butterfat in a mix include:
* cost
* hindered whipping ability
* decreased consumption due to excessive richness
* high caloric value
The best source of butterfat in ice cream for high quality flavour and convenience is fresh sweet cream from fresh sweet milk. Other sources include butter or anhydrous milkfat.
During freezing of ice cream, the fat emulsion which exists in the mix will partially destabilize or churn as a result of the air incorporation, ice crystallization and high shear forces of the blades. This partial churning is necessary to set up the structure and texture in ice cream, which is very similar to the structure in whipped cream. Emulsifiers help to promote this destabilization process, which will be discussed below.
The triglycerides in milkfat have a wide melting range, +40° C to -40° C, and thus there is always a combination of liquid and crystalline fat. Alteration of this solid: liquid ratio can affect the amount of fat destabilization that occurs. Duplicating this structure with other sources of fat is difficult.
Vegetable (non-dairy) fats are used extensively as fat sources in ice cream in the United Kingdom, parts of Europe, the Far East, and Latin America but only to a very limited extent in North America. Five factors of great interest in selection of fat source are the crystal structure of the fat, the rate at which the fat crystallizes during dynamic temperature conditions, the temperature-dependent melting profile of the fat, especially at chilled and freezer temperatures, the content of high melting triglycerides (which can produce a waxy, greasy mouthfeel) and the flavor and purity of the oil. It is important that the fat droplet contain an intermediate ratio of liquid:solid fat at the time of freezing. It is difficult to quantify this ratio as it is dependent on a number of composition and manufacturing factors, however, 1/2 to 2/3 crystalline fat at 4-5oC is a good, working rule. Crystallization of fat occurs in three steps: undercooling to induce nucleation, heterogeneous or homogeneous nucleation (or both), and crystal propagation. In bulk fat, nucleation is predominantly heterogeneous, with crystals themselves acting as nucleating agents for further crystallization, and undercooling is usually minimal. However, in an emulsion, each droplet must crystallize independently of the next. For heterogeneous nucleation to predominate, there must be a nucleating agent available in every droplet, which is often not the case. Thus in emulsions, homogeneous nucleation and extensive undercooling may be common. Blends of oils are often used in ice cream manufacture, selected to take into account physical characteristics, flavor, availability, stability during storage and cost.
We have recently completed a study on the use of non-dairy fats in frozen desserts, which is available here. A blend of 75% of either fractionated palm kernel oil or coconut oil and 25% of an unsaturated oil, like high oleic sunflower oil, was shown to produce optimal levels of fat destabilization, meltdown and flavour, although coconut oil may take longer to crystallize during aging. Blends of 50% milkfat, 37.5% fractionated palm kernel or coconut oil, and 12.5% high oleic sunflower oil were also shown to be very acceptable. (foodscience)
See also : soto
sour sally
Sejarah es krim menurut IAICM
Sebagian besar materi berikut telah diambil dari "Sejarah Ice Cream", ditulis oleh Asosiasi Internasional Ice Cream Produsen (IAICM), Washington DC, 1978. Seperti yang akan Anda catatan di bawah, namun, banyak dari sejarah awal es krim cerita rakyat tetap tidak terbukti.
Sekali waktu, ratusan tahun yang lalu, Charles I dari Inggris mengadakan perjamuan negara sumptous bagi banyak teman-teman dan keluarga. Makan, yang terdiri dari banyak makanan lezat hari, telah cukup hebat tetapi "coup de grace" itu belum datang. Setelah banyak persiapan, koki Perancis Raja sudah mengarang sebuah hidangan tampaknya baru. Saat itu dingin dan mirip salju segar turun tapi jauh creamier dan manis daripada dessert setelah makan malam lainnya. Para tamu senang, seperti Charles, yang memanggil masak dan memintanya untuk tidak membocorkan resep untuk krim membeku. Raja ingin kelezatan akan dilayani hanya di meja Royal dan menawarkan masak 500 pound per tahun untuk tetap seperti itu. Beberapa waktu kemudian, Charles miskin jatuh ke ketidaksayangan dengan umat-Nya dan dipenggal tahun 1649. Tapi saat itu, rahasia krim beku tetap rahasia lagi. Koki, bernama DeMirco, tidak menepati janjinya.
Cerita ini hanyalah salah satu dari banyak kisah menarik yang mengelilingi evolusi dessert negara kita yang paling populer, es krim. Kemungkinan bahwa es krim tidak diciptakan, melainkan datang untuk menjadi selama bertahun-tahun upaya serupa. Memang, Kaisar Romawi Nero Claudius Caesar dikatakan telah mengirim budak ke pegunungan untuk membawa salju dan es untuk mendinginkan dan membekukan minuman buah ia begitu menyayangi. Berabad-abad kemudian, Italia Marco Polo kembali dari perjalanan yang terkenal ke Timur Jauh dengan resep untuk membuat es air menyerupai sherbets modern.
Pada tahun 1774, sebuah katering bernama Phillip Lenzi mengumumkan di surat kabar New York bahwa ia baru saja tiba dari London dan akan menawarkan untuk dijual berbagai kue, termasuk es krim .* Dolley Madison, istri Presiden AS James Madison, dilayani es krim padanya suami Inaugural Ball tahun 1813 .**
Perbaikan pertama dalam pembuatan es krim (dari jalan buatan tangan dalam mangkuk besar) diberikan kepada kita oleh seorang wanita New Jersey, johnson Nancy, yang pada tahun 1846 menemukan freezer tangan-menghidupkan. Perangkat ini masih biasa bagi banyak orang. Dengan memutar freezer menangani, mereka gelisah wadah campuran es krim di tempat tidur garam dan es sampai campuran membeku. Karena Nancy Johnson tidak memiliki pandangan jauh ke depan untuk memiliki penemuan nya dipatenkan, namanya tidak muncul pada catatan paten. Sebuah sejenis freezer itu, bagaimanapun, dipatenkan pada tanggal 30 Mei 1848, oleh Mr Young yang setidaknya memiliki kehormatan kepada menyebutnya "Johnson Patent Ice Cream Freezer".
Produksi komersial dimulai di Amerika Utara di Baltimore, Maryland, 1851, oleh Mr Jacob Fussell, sekarang dikenal sebagai bapak industri es krim Amerika. (Foodscience)
See also : soto
sushi
Sekali waktu, ratusan tahun yang lalu, Charles I dari Inggris mengadakan perjamuan negara sumptous bagi banyak teman-teman dan keluarga. Makan, yang terdiri dari banyak makanan lezat hari, telah cukup hebat tetapi "coup de grace" itu belum datang. Setelah banyak persiapan, koki Perancis Raja sudah mengarang sebuah hidangan tampaknya baru. Saat itu dingin dan mirip salju segar turun tapi jauh creamier dan manis daripada dessert setelah makan malam lainnya. Para tamu senang, seperti Charles, yang memanggil masak dan memintanya untuk tidak membocorkan resep untuk krim membeku. Raja ingin kelezatan akan dilayani hanya di meja Royal dan menawarkan masak 500 pound per tahun untuk tetap seperti itu. Beberapa waktu kemudian, Charles miskin jatuh ke ketidaksayangan dengan umat-Nya dan dipenggal tahun 1649. Tapi saat itu, rahasia krim beku tetap rahasia lagi. Koki, bernama DeMirco, tidak menepati janjinya.
Cerita ini hanyalah salah satu dari banyak kisah menarik yang mengelilingi evolusi dessert negara kita yang paling populer, es krim. Kemungkinan bahwa es krim tidak diciptakan, melainkan datang untuk menjadi selama bertahun-tahun upaya serupa. Memang, Kaisar Romawi Nero Claudius Caesar dikatakan telah mengirim budak ke pegunungan untuk membawa salju dan es untuk mendinginkan dan membekukan minuman buah ia begitu menyayangi. Berabad-abad kemudian, Italia Marco Polo kembali dari perjalanan yang terkenal ke Timur Jauh dengan resep untuk membuat es air menyerupai sherbets modern.
Pada tahun 1774, sebuah katering bernama Phillip Lenzi mengumumkan di surat kabar New York bahwa ia baru saja tiba dari London dan akan menawarkan untuk dijual berbagai kue, termasuk es krim .* Dolley Madison, istri Presiden AS James Madison, dilayani es krim padanya suami Inaugural Ball tahun 1813 .**
Perbaikan pertama dalam pembuatan es krim (dari jalan buatan tangan dalam mangkuk besar) diberikan kepada kita oleh seorang wanita New Jersey, johnson Nancy, yang pada tahun 1846 menemukan freezer tangan-menghidupkan. Perangkat ini masih biasa bagi banyak orang. Dengan memutar freezer menangani, mereka gelisah wadah campuran es krim di tempat tidur garam dan es sampai campuran membeku. Karena Nancy Johnson tidak memiliki pandangan jauh ke depan untuk memiliki penemuan nya dipatenkan, namanya tidak muncul pada catatan paten. Sebuah sejenis freezer itu, bagaimanapun, dipatenkan pada tanggal 30 Mei 1848, oleh Mr Young yang setidaknya memiliki kehormatan kepada menyebutnya "Johnson Patent Ice Cream Freezer".
Produksi komersial dimulai di Amerika Utara di Baltimore, Maryland, 1851, oleh Mr Jacob Fussell, sekarang dikenal sebagai bapak industri es krim Amerika. (Foodscience)
See also : soto
sushi
Langganan:
Komentar (Atom)